Antara Aku, Sedekah, dan Orang Gila?

Judul tersebut ada hubungannya? Tentu saja.

Dengan aku sebagai variabel dependen, orang gila sebagai variabel independen, dan sedekah sebagai variabel moderating. *korbankejahatanskripsi*

Kejadian ini terjadi pada saat bulan Ramadhan 2012 lalu. Waktu itu, gak sengaja membaca sebuah kalimat menarik dari *lupa, entah buku atau blog* yang berisi kalimat: “Kalau merasa hidup kamu membosankan dan ingin mencoba sesuatu yang baru, cobalah mulai dari rute angkot.”

Jadi maksudnya, kalau nanti pake angkot, rutenya dibedakan, biasanya rute jalan A ke B ke C sekarang jalan A ke D ke C.

Hari itu janjian sama *ehem* pacar buat buka puasa bareng. Janjian di kampus.  Termotivasi dari kalimat di atas, coba naik angkot rutenya beda, yang awalnya Gerlong>Setiabudhi>Simpang>DU jadi ga turun di simpang, tapi turun di ITB .

Kejadian pertama, sebenarnya berlangsung dalam angkot. Waktu di angkot duduk di pojok belakang, sebelahnya nenek-nenek. Di tengah perjalanan, sudah menyiapkan ongkos 5000 rupiah. Tiba-tiba, si nenek curhat. Dia bukan dari Bandung, mau nengok cucu karena kecelakaan. Terus bilang mau pulang tidak ada ongkos, sisa 2000 rupiah padahal sampai terminal saja jumlah tersebut tidak cukup. Karena kasihan, uang ongkos punyaku tadi yang 5000 ditukar dengan uang 2000 nenek tadi. Sedekah.

Nah, begitu sampai di tempat tujuan, karena uang 2000 nenek tadi tidak cukup, pake uang 10000 buat bayar angkot. Dikasih kembalian 7.500 sama sopirnya. Jadi sekarang di tangan kanan ada uang 7.500, di tangan kiri ada 2000. Untuk sampai ke kampus, menunggu angkot selanjutnya di belokan jalan Ganesha. Di situ, ada sesosok orang gila nongkrong, ngeliatin. Sampai akhirnya, orang gila ini mengulurkan tangannya sambil bilang: “Hhaaa hhaaa” . Disimpulkan, dia menginginkan uang yang ada di tangan. Dikasihlah tuh uang 2000. Ehhhhh, begitu sudah dikasih, orang gila ini malah menunjuk-nunjuk tangan yang satu lagi, menunjuk uang 7.500 yang saya pegang sembari sedikit berteriak. Karena takut dan panik, dikasihlah itu uang. SEMUANYA. Haduuhhh -_-“. Takut, akhirnya lari agak menjauh, baru deh datang angkotnya. Sedekah (lagi).

Dua kejadian sedekah tak sengaja itu bikin mikir: Siaaaalll banget sih hari ini. Tapi mikir lagi, mungkin gara-gara udah gak pernah mikirin sedekah kali ya. Teguran banget. Memang selama ini mikirnya pas lagi punya uang, pengen dibeliin ini itu, gak pernah mikirin sedekah. Hihi😀

Kalau saja…

tidak melalui jalan tersebut,

mungkin aku…

tidak akan pernah tahu

rasanya ‘sedekah’ tak sengaja ini.

Kalau saja…

tidak melalui jalan tersebut,

tidak akan ada cerita ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s