Bersepeda Bersama E-Forest FEB Unpad

Senin, 17 Juni 2013.

Bertualang dengan sepeda kali ini saya gak sendirian, yeah!

Malam sebelumnya, ada pemberitahuan akan diadakan #Sasapedahan (Bahasa Sunda, artinya bersepeda) yang diadakan E-Forest FEB Unpad, yaitu sebuah komunitas dalam kampus yang isinya para pecinta alam yang suka naik gunung. Kali ini mereka mengajak kami untuk bersepeda bersama berkeliling Bandung sembari bercerita mengenai sejarah Bandung. Tentu saja kesempatan ini tidak akan saya sia-siakan karena kecintaan saya pada ‘sepeda’ dan ‘Bandung’ sudah sampai titik maksimal (*lebay). Walaupun sebenarnya saya sanksi bisa bangun pagi karena malam itu baru bisa tidur sekitar jam 1-2 pagi. Ditambah urusan ketemuan sama dosen yang rencananya akan saya ‘sergap’ hari itu.

Keesokan paginya, beneran kejadian, baru bangun sekitar pukul 06.00 (*sigh). Hal pertama yang saya lakukan adalah……. *jengjeng* nge-tweet. Eits, bukan alay ‘aduuuhh kesiangan’ tapi minta teman-teman E-Forest untuk menunggu karena dipastikan akan terlambat (maaf). Bergegas, semua persiapan saya lakukan dengan serba singkat, termasuk mandi. Tak lupa perbekalan untuk ketemu sama dosen. Tidak mau membuat yang lain menunggu, saya memutuskan untuk naik ojeg dari rumah di Setiabudhi sampai Dago, shelter tempat penyewaan sepeda sebagai tempat berkumpul.  Sampai sana ternyata masih banyak orang yang harus ditunggu (tau gitu tadi gak usah ngojeg plus uang 20ribu masih utuh, haha pelit).

tumblr_moiwg80QwD1rpveg4o3_1280

Foto dulu sebelum mulai berkelana

Setelah menunggu cukup lama, kami mulai perjalanan dari Cikapayang ke daerah Cibeunying, di sana ada Cibeunying Park tapi kita tidak beristirahat di sini karena perjalanan sebelumnya sudah pernah dan tenaga kami masih cukup kuat untuk melanjutkan perjalanan. Terus menyusuri jalan, sampai di Masjid Istiqomah (daerah jalan Riau). Beristirahat sebentar sembari mendengarkan Adira sang tour guide menjelaskan sejarah Masjid Istiqomah. Dalam buku sejarah Bandung yang dia baca dan dia bawa, tertulis bahwa pernah ada patung manusia telanjang di bangunan tersebut tapi sekarang sudah dihancurkan (lengkapnya tanya Adira aja ya, Ask Adira).

tumblr_moiwg80QwD1rpveg4o1_1280

sedikit narsis sambil istirahat dan mendengar penjelasan sang tour guide di depan Masjid Istiqomah

Perjalanan kami lanjutkan ke Lapangan Saparua melewati Taman Maluku (di sana terdapat patung pastur yang menurut cerita mistis matanya bisa lirik-lirik, tangannya gerak, dll). Kami memutuskan untuk sarapan di pinggir jalan Lapangan Saparua. Sedikit rekomendasi, kalau ada kesempatan ke sana, makanan yang enak: dimsum (juara enaknya plus murah harganya) dan gudeg (tahu putihnya mantap!). Selesai makan, Adira kembali bercerita kalau Lapangan Saparua dulu jadi lahan rebutan tempat berlatih klub-klub bola yang ada di Bandung sampai bercerita sejarah Persib yang menurut warga Bandung: “Persib bukan sekedar klub bola tapi sebuah perjuangan.”, begitu penjelasannya. Di tengah obrolan, kami memutuskan untuk mengunjungi Museum Mandala Wangsit. Dasar saya orangnya penakut, mendengar namanya saja sudah merinding. Konon, menurut cerita yang saya dengar, di sana sangat mistis karena isinya baju-baju dan alat perang para pejuang yang masih terdapat darahnya plus cerita menyeramkan lainnya. Tapi, apa daya berdasarkan musyawarah mufakat akhirnya kami ke sana.

Alhamdulillah, di sana bertemu rombongan anak SD yang banyak dan ributnya minta ampun jadi tidak terlalu sepi dan menyeramkan. Tetap saja, melihat benda-benda yang ada di sana membuat saya merinding dan takut. Gak kebayang bagaimana rasanya hidup di jaman peperangan itu. Mungkin udah jadi budak para penjajah. Oh iya, untuk dapat ‘menikmati’ sejarah di Museum Mandala Wangsit ini tidak dikenakan tiket masuk, tapi ada biaya pemeliharaan sebesar Rp 2.500 per orang (*sama aja, tapi murah banget kok!)

berfoto di depan Museum Mandala Wangsit (teteeepp, narsis)

berfoto di depan Museum Mandala Wangsit (teteeepp, narsis)

Setelah lelah, kami memutuskan untuk pulang.

Perjalanan kali ini seru loh! Terima kasih kepada E-Forest FEB Unpad atas kesempatannya. Ditunggu ajakan untuk perjalanan selanjutnya. Ayo, Kayuh Terus Sepedamu!

*) ketemu sama dosen : (fakta yang terjadi adalah sebaliknya) pada kenyataannya saya gak jadi ketemu dosen

*sayang sekali saya tidak memotret tempat-tempat yang kami kunjungi, lain kali ya. Oh iya, Hati-hati sama jalan raya. Terima kasih buat teman-teman bersepeda yang telah sabar menunggu saya yang lelet dan penakut ini kalau masuk jalan raya HAHA.

4 responses to “Bersepeda Bersama E-Forest FEB Unpad

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s