[FIKSI] Marah dan Kehilangan

Ternyata marah dan kehilangan hubungannya dekat. Sedekat kelahiran dengan kematian. Sedekat Venus dengan Bumi.

Sedekat aku dan kamu.

====================================================================

Aku akhirnya termenung, di sebuah bangku taman di depan gedung tua berarsitektur Belanda. Gedung bercat putih itu memiliki taman yang cukup luas dengan kolam besar, bangku-bangku, dan dihiasi beberapa patung serupa cupid memanggul kuali. Pohon-pohon tua besar dan bunga-bunga taman membuat hawa sejuk enggan beranjak pergi.

Tampak sepasang muda-mudi sedang duduk di pinggir kolam. Dari gelagatnya yang masih malu-malu, aku langsung tahu mereka baru saja menjalin kasih. Sang lelaki berusaha membuat sebuah lelucon dan sang perempuan akan membalas dengan tawanya yang dipermanis. Meskipun mereka sama-sama tahu bahwa lelucon itu tidak lucu. Semua memang tampak indah jika engkau sedang jatuh cinta.

Di bawah pohon besar, para petugas kebersihan sedang kewalahan mengurus daun yang berjatuhan. Sehelai, dua helai, ratusan bahkan mungkin ribuan helai daun bagi mereka berarti lain. Dari sana mereka dapat makan. Dari sana keluarga mereka dinafkahi.

Ternyata, aku tidak sendiri. Ada sang nyamuk yang sama-sama senang dengan suhu di taman ini. 

Ini seharusnya sudah memasuki awal musim kemarau di Indonesia. Namun, akhir-akhir ini cuaca sering tak tertebak. Sama. Seperti hatiku.

Sejenak pikiranku melayang. Pada mimpi semalam. Tiba-tiba, aku jadi sangat sedih. Dia muncul di sana. Aku hanya bisa memandangnya dari jauh. Seolah waktu dipercepat. Tiba-tiba, dia pergi. Untuk selamanya. Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya bisa berteriak dalam hati dan memohon: Tuhan, kembalikan dia.

Sejenak pikiranku melayang. Pada hari sebelum mimpi semalam. Aku sangat marah. Muka dan telingaku merah. Rasa sakit terasa menyayat hati. Ingin rasanya aku menutup wajahku dengan kedua telapak tangan lalu menangis sejadi-jadinya. Kami baru saja bertengkar hebat.

Hari itu kami membuat janji untuk pergi bersama. Semua persiapan telah aku lakukan semenjak bangun pagi. Aku sudah mempercantik diri jauh-jauh jam sebelum dia datang menjemput. Satu waktu, dia belum muncul. Aku mengalihkan rasa jenuh menunggu dengan kembali memeriksa perlengkapan yang akan aku bawa. Satu waktu lagi, dia belum juga muncul. Aku masih mengalihkan rasa jenuh menunggu dengan kegiatan lainnya. Satu waktu lagi-lagi, dia belum muncul. Baiklah, kali ini aku mulai khawatir dan tidak sabar. Aku berusaha menghubunginya. Tidak diangkat. Satu waktu lagi-lagi-lagi, dia belum muncul. Kali ini teleponku dimatikan. Satu waktu lagi-lagi-lagi-lagi, dia akhirnya muncul. Aku sudah sangat ingin marah. Sampai akhirnya, dia berkata:

“Maaf, aku tidak bisa.”

Kali itu juga aku terdiam. Kepalaku pusing, badanku lemas, dan pikiranku entah di mana. Apa yang baru saja dia katakan? Apa maksudnya?

Tersadar, aku akhirnya hanya bisa sangat marah. Aku menangis, entah harus menyalahkan siapa. Sakit sekali.

Sudah tiga hari ini kami sama-sama tidak saling menghubungi. Sampai akhirnya, mimpi itu muncul.

Hai, apa kabar? Aku rindu. 

====================================================================

Pernahkah kamu merasakan hal yang sama? Kamu sangat marah besar lalu kamu merasa kehilangan?

Aku langsung berpikir: Bagaimana jika itu benar terjadi? Aku masih sangat marah ketika dia sudah tiada? Aku hanya bisa menyesal ketika kami belum saling memberi maaf?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s