Kisah Seorang Bapak Tua Penjual Susu Kacang

image from here http://img.eramuslim.com/media/2013/06/bapak-tua1.jpg

image from here 

Ini kisah seorang bapak tua yang aku temui setiap pagi ketika beranjak ke kantor. Dengan kacamatanya yang ‘khas’, selalu tersenyum dan menawarkan, “susu kacangnya, Dek”.

 ***

 Waktu menunjukkan tepat pukul 07.00 pagi itu. Aku tahu aku sudah terlambat. Kereta yang akan kunaiki menuju tujuanku, akan segera berangkat pukul 07.25. Walaupun jarak dari tempat tinggalku menuju stasiun tidak terlalu jauh, namun menempuh jarak tersebut di Jakarta akan membutuhkan waktu lebih dari 25 menit, terlebih lagi di pagi hari. Akhirnya, aku memutuskan menggunakan ojeg menuju Stasiun Tanah Abang. Berharap Abang Ojeg mengerti bahwa aku sedang terburu-buru.*fingercrossed*

 Ku naiki tangga dua-dua sesampainya di stasiun. Syukurlah kereta yang akan kunaiki belum berangkat. Hanya saja konsekuensi dari keterlambatanku adalah aku tidak dapat tempat duduk. Kereta sudah dipenuhi penumpang.

 Hidup di Jakarta, terlebih lagi untuk mencari nafkah, membuatku mempunyai kebiasaan baru. Oke, ralat. Ini kebiasaan lama yang semakin menjadi. Memperhatikan orang-orang sekitar sembari berpikir. Apapun itu, baik atau buruk. Tak terkecuali pagi ini, di kereta yang penuh sesak ini. Ku temui seorang Ibu tua terduduk di pojok kereta. Beralaskan duduk barang bawaannya, tampak Ibu tersebut kelelahan. Aku tebak umurnya sekitar 40-an. Bisa jadi seharusnya lebih muda. Mungkin kerja terlalu keras yang ia lakukan saat ini membuatnya terlihat lebih tua.

 Tak lama berselang, kereta tiba di stasiun pemberhentian pertama. Gerbong kereta yang tadinya penuh sesak oleh penumpang sudah mulai terurai di stasiun ini. Maklum, kawasan ini merupakan kawasan kantoran. Ada hal unik yang aku temui di Jakarta. Gaya unik orang kantoran ketika berangkat bekerja: masih memakai sandal jepit, riasan wajah seadanya dan tak lupa masker (penutup hidung dan sebagian muka) yang selalu menempel. Melihat kondisi “jalanan” ketika aku berangkat bekerja, aku mulai merasa wajar dengan gaya unik mereka.

Setelah menempuh kurang lebih 30 menit perjalanan kereta, sampailah sudah di stasiun tujuanku. Aku bermaksud meneruskan perjalanan menuju kantor menggunakan angkutan umum ketika tiba-tiba saja seseorang menyapaku dengan ramah di pintu keluar stasiun: “Susu kacangnya, Dek.” Tidak aku hiraukan karena sedang terburu-buru.

Keesokan harinya, kejadian tersebut berulang. Seorang laki-laki berperawakan sedang dengan rambut yang mulai memutih, menyapaku ramah sembari menawarkan: “Susu kacangnya, Dek.” Kali ini aku hanya bisa membalasnya dengan senyuman.

 Kejadian tersebut terus berulang setiap aku melewati jalan tersebut. Dengan kacamata khasnya yang retak, bapak tua tersebut tidak pernah absen menawariku susu kacang jualannya. Walaupun sebenarnya aku tidak terlalu menyukai susu kedelai (aku tebak rasa susu kacang sama dengan rasa susu kedelai), hari itu aku akhirnya membeli susu kacang jualannya dengan dasar rasa kasihan. Kau tahu? Raut wajah sang bapak tua langsung sumringah. Sembari membungkus susu kacang pesananku, dia menjelaskan dengan penuh semangat manfaat susu kacang bagi kesehatan. Bercerita ini itu tentang dia dan keluarnya. Anaknya yang sedang melanjutkan kuliah. Istrinya yang sedang sakit-sakitan. Aku hanya bisa bernafas lega mendengarnya. Bukan karena telah membeli susu kacangnya. Setidaknya, aku bisa jadi tempat ia berbagi cerita hari itu.

Walaupun kami tidak mengobrol banyak, aku belajar satu hal.:

As long as you believe, one day, you’ll get what you dream. Although for that you have to be patient. Everything takes time. Believe means, you always optimistic for the effort you’re doing and of course, don’t forget to always pray.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s