Bagaimana Jika…..

Kali ini saya ingin mengajak semua yang membaca tulisan ini bermain. Sederhana, tanpa perlu peralatan dan properti lainnya. Hanya dengan pikiran. Jangan salah sangka, saya bukan seorang ahli sulap yang akan mengajak Anda menebak isi pikiran seseorang, haha😀

Suatu hari, seorang teman bertanya: Bagaimana jika Bandung tidak pernah diciptakan?

Saya menjawab, “Tidak akan ada kebahagiaan.” (re: ini lebay sih tapi saya orang Bandung asli dan sangat cinta dengan kota ini).

Setelah pertanyaan tadi, saya mulai berpikir hal lain. Di sinilah permainan itu dimulai.

Bagaimana jika saya terlahir sebagai seorang laki-laki?

Mungkin saya akan diberi nama Putra Pebrianta Rusmana. Putra alasannya agar nama panggilan saya tetap Puput. Lahir di bulan Februari dan karena orang Sunda, Pebrianta jadi versi laki-laki Pebrianti. Kenapa bukan Pebrianto karena biasanya yang berakhiran “O” itu nama orang Jawa. Rusmana tentunya nama keluarga. Haha, lucu juga😀

Bagaimana jika saya lahir di keluarga lain?

Jadi ingat kejadian lucu dulu sekali, ketika adik bungsu saya yang waktu itu berumur sekitar 3 tahun-an. Suatu ketika, dia marah dan minta ditinggal di jalanan. Saya lupa alasan jelas yang menyebabkan dia marah. Lalu dia berkata, “Tinggalin aja di sini, biar diambil sama orang kaya. Terus dikasih nama Bunga.” Hahaha. Dia memang lucu, tapi itu dulu sekali😛

Nah, sekarang saya mulai membayangkan jika saya terlahir di keluarga berkebangsaan negara lain, misal Inggris atau Amerika atau Arab. Terciptalah khayalan lain: saya menjadi seorang bule. Pasti udah jago ngomong Bahasa Inggris cas-cis-cus. Tidak balelol (re: Bahasa Sunda, terbata-bata dan kacau) seperti sekarang. Hahahaha.

Bagaimana jika ternyata saya punya kembaran?

Ini beneran terpikirkan. Dulu sekali. Ketika saya baru tahu bahwa Ibu saya terlahir kembar (ini nyata). Ketika saya baru tahu ada mitos bahwa setiap manusia punya kembaran tujuh orang di Dunia. Ketika saya tahu telenovela anak-anak berjudul “Mariana dan Silvana”. Jadi ceritanya, di telenovela itu, sepasang kembar terpisah ketika mereka bayi dan baru bertemu ketika keduanya sudah beranjak dewasa. 

Jika ternyata saya terlahir kembar, saya ingin kembaran saya laki-laki. Alasannya, agar dapat bertukar pikiran dari sisi yang benar-benar berbeda. Selain itu, biar gak rebutan aja gitu kalau ternyata suka sama cowok yang sama. Hahahaha.

Memang rasanya lucu dan aneh ketika saya memikirkan hal-hal di atas. Kok rasanya gak penting banget. Memang iya! Haha. Akan tetapi, ada “bagaimana jika” lainnya yang dapat berujung tangis dan syukur. Hanya saja yang saya tuangkan dalam tulisan ini hanya versi lucu dan aneh saja😀

Pada dasarnya, memang manusia diciptakan tidak pernah puas. Oleh sebab itu, syukur dan sabar akan terasa berat karena hadiahnya Surga. Coba kalau mudah, hadiahnya setrikaan kali ya. Hihi.

Ayo bikin “Bagaimana jika” versi kamu😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s