Filosofi Recehan, tentang Menghargai Hal Kecil

Saya mempunyai kebiasaan. Mengumpulkan koin receh dan menyimpannya dalam kaleng. Terlihat sederhana, namun bagi saya, mempunyai makna tersendiri. 

***

Pencapaian yang Besar, Bermula dari Hal Kecil

Saya memulai hidup mandiri ketika memutuskan untuk bekerja di Ibu Kota Jakarta. Kebiasaan menggunakan angkutan umum (re: busway) memaksa saya mendapatkan recehan yang didapat dari uang kembalian, hampir setiap hari. Saat itu, busway belum menggunakan electronic card seperti sekarang. Jadi, uang recehan masih sangat berlimpah.

Satu tahun berselang kebiasaan mengumpulkan recehan tersebut tidak sengaja terbawa sampai ke kantor, ketika salah satu rekan kerja terbiasa meninggalkan dengan sengaja uang receh di atas meja. Dia biarkan sampai benar-benar hilang.

Saya bertanya,”Kenapa recehannya gak diambil?”

“Males masukin dompet, bikin gendut dompet.”, jawabnya.

“Kenapa? Kalau lo mau, ambil aja gih. Lumayan, buat naik angkot atau kereta.”, lanjutnya.

Saya ambil uang receh tersebut. Bukan karena mata duitan. Jujur, saya kurang suka dengan sikap seseorang yang selalu menganggap sepele hal-hal kecil. Terlebih lagi jika alasannya terlalu sederhana. Sejak saat itu, rekan kerja tersebut sering bahkan selalu memberikan uang recehan kepada saya.

Sejak saat itu pula, saya malah terobsesi. Akan saya kumpulkan semua recehan yang saya dapatkan.

“Buat apa lo ngumpulin recehan, Put?”, salah satu rekan kerja lainnya bertanya.

“Buat nikah.”, polos saya menjawab.

Seketika, saya terinspirasi dan terobsesi untuk menggunakan recehan tersebut pada prosesi saweran di pernikahan nanti. Hehehe *smirk😀

“Emang udah ada calonnya? Emang cukup?”, rekan kerja lainnya ikutan mengejek.

“Doakan saja. Hehe.”, saya jawab disertai senyum dan harap.

Mungkin di satu sisi juga terobsesi dengan kata-kata: Kalau uang seratus peraknya ada sejuta bisa jadi seratus juta.

Bukankah suatu pencapaian besar bermula dari hal kecil? Setidaknya sedang berusaha. Saya berkata dalam hati.

Bersyukur

Pernah suatu ketika, saya benar-benar kehabisan uang. Gaji bulan tersebut, baru saya terima keesokan harinya. Saya harus memutar otak bagaimana melanjutkan hidup selama satu hari itu. Tetap harus pergi ke kantor menggunakan angkutan umum juga memerlukan asupan makanan. Segera saya meminta pertolongan seorang teman ketika tiba-tiba teringat tiga buah kaleng bekas makanan yang saya simpan di atas lemari di pojok kamar. Saya ingat pernah menyimpan sesuatu di dalamnya. Recehan.

Saya buka salah satu kaleng dan kumpulkan receh demi receh pecahan lima ratus dan seribu Rupiah untuk digunakan. Mengambil secukupnya setelah mengalkulasi perkiraan pengeluaraan hari itu. Alhamdulillah, pertolongan Allah SWT itu dekat. Dan janji-Nya untuk memberi lebih ketika kita mensyukuri hal kecil, ditepati.

Saat itu pun saya belajar. Bagaimana sesuatu yang kecil apabila kita maknai dan syukuri, akan menjadi sebuah pertolongan yang besar suatu saat nanti. Teringat kembali obsesi saya tadi.

Kini, bukan lagi tentang bagaimana bisa mendapatkan sesuatu. Melainkan tentang bagaimana kita memaknai dan mensyukuri hal kecil🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s