Kalimantan Timur: The Untold Story

Arah mata angin kali ini membawaku ke Pulau lain di Indonesia, Kalimantan.

“Maling. Maling!” Teriakan seorang wanita mengagetkanku ketika sedang mengantri untuk memasuki pesawat. Sepasang suami-istri rupanya tengah berdebat. Sang suami hendak melarikan diri dan diteriaki maling oleh sang istri. Ada-ada saja.

Dua jam empat puluh lima menit. Lama pesawat ini akan mengudara menuju Bandara Sepinggan, Balikpapan. Perbedaan waktu antara Indonesia Bagian Barat dan Indonesia Bagian Tengah menambah satu jam lama perjalanan. Sungguh menarik!

Sesampainya di Bandara Sepinggan, aku disambut dengan suasana Bandara yang nyaman. Nuansa pepohonan terlihat di tengah-tengah Bandara layaknya hutan tengah kota. Sesampainya di luar, matahari bersinar dengan teriknya. Kendaraan ramai berlalu-lalang. Kota besar. Sama saja. Pikirku.

Salah satu sudut di Bandara Sepinggan, Balikpapan

Salah satu sudut di Bandara Sepinggan, Balikpapan

 

Pagi di Pelabuhan

Setelah bermalam di Balikpapan, pagi hari supir hotel mengantarku menuju pelabuhan. Desa Pemaluan, Kecamatan Sepaku, Kalimantan Timur. Itu tujuanku kali ini. Untuk sampai ke desa tersebut, dapat melalui jalur darat dan laut. Akan tetapi, membutuhkan waktu lebih dari 4 jam jika menggunakan jalur darat dikarenakan infrastruktur jalan yang belum memadai. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk memilih jalur laut dengan waktu tempuh 45 menit. Lagi pula, aku sedang berada di Kalimantan. Pulau dengan wilayah air terluas di Indonesia. Tidak mungkin aku mau melewatkan kesempatan menaiki boat yang jarang aku temui di Pulau Jawa. Meskipun tujuan utama perjalanan ini untuk bekerja, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mengenal negeri tercintaku ini. Indonesia.

Sembari menunggu kapal yang akan mengantarku datang, aku berkeliling pelabuhan. Di sisi kiri pelabuhan, berjejer rumah penduduk setempat dengan kapal sederhana terparkir di depannya. Hal baru lagi buatku karena biasanya aku hanya akan melihat kendaraan bermotor yang terparkir.

Rumah Penduduk Sekitar Pelabuhan ITCI

Rumah Penduduk Sekitar Pelabuhan ITCI

Kaki-kakiku melangkah penasaran menuju dermaga pelabuhan. Tampak banyak kapal nelayan sedang beristirahat. Kapal-kapal tersebut milik para nelayan yang berasal dari Sulawesi. Kutebak mereka sudah melaut berhari-hari. Terlihat dari jumlah pakaian yang mereka jemur di geladak kapal.

10177869_10201972680942549_164134541_n

Dermaga Pelabuhan ITCI di pagi hari

Di sisi lain, tampak kapal-kapal berukuran besar. Rupanya, kapal-kapal tersebut berfungsi sebagai pengangkut minyak dan hasil tambang. Sebut saja perusahaan minyak dan tambang besar yang kamu tahu, semua ada disini.

Pelabuhan ITCI, Kampung Baru. Menurut sumber, pelabuhan ini termasuk pelabuhan tersibuk di Indonesia. Hasil bumi Indonesia, khususnya Kalimantan, diangkut melalui pelabuhan ini. Karena pada dasarnya pelabuhan ini tidak dipergunakan untuk mengangkut penumpang, aku beruntung dapat melihat momen ini. Momen di mana aku menyadari, Indonesiaku benar-benar kaya.

20140403_141150

Beberapa kapal besar pengangkut hasil bumi

Kapal yang akan mengangkutku menuju Desa Pemaluan, akhirnya datang. Sepanjang perjalanan, aku nikmati dengan melihat sekitar. Kapal-kapal yang aku lihat hanya setitik dari dermaga tadi, kali ini terlihat 100 kali lebih besar. Di tengah laut tampak bangunan yang besarnya 5 kali lipat besar kapal yang berfungsi sebagai ‘bengkel’ kapal-kapal yang rusak. Seperti berada di dalam film Transformer. Luar biasa!

Hutan rawa dan kilang minyak menghiasi pesisir laut. Di tengah perjalanan, turut ikut dalam boat ku seorang guru dan seorang perawat yang hendak bekerja. Layaknya angkutan umum di perkotaan, kedua orang ini menunggu di ‘halte’ dermaga dan membayar ongkos ketika sampai. Sayang, begitu banyak sampah yang dibuang ke lautan begitu saja sehingga boat kami terpaksa harus berhenti beberapa kali untuk mengeluarkan sampah yang terlilit baling-baling kapal.

Tentang Kebersamaan

Sampai di seberang pelabuhan, aku teruskan perjalanan melalui darat. Kali ini perkebunan sawit menggantikan pemandangan kilang minyak. Ada hal yang menarik perhatianku ketika melintas di suatu daerah (jujur, aku lupa namanya). Sebuah pemakaman. Tanah dibuat bersusun seperti terasering sawah, tidak rata seperti biasanya. Selain itu, semua agama bercampur di sana. Berdampingan. Dari kematian, (mungkin) penduduk setempat belajar arti toleransi dan tidak pandang latar belakang.

Aku kira disini akan bertemu dengan orang-orang Suku Dayak, suku asli Kalimantan Timur. Ternyata perkiraanku sedikit meleset. Karena yang aku temukan adalah orang-orang dengan logat medok, Suku Jawa. Rupanya, banyak sekali masyarakat transmigran disini.

Sampai Jumpa Lagi, Kalimantan!

Kuhabiskan waktu 3 hari 2 malam di Desa Pemaluan untuk menyelesaikan pekerjaan. Kembali ke Balikpapan, aku ditawari untuk berjalan-jalan menikmati kota yang sedang berkembang itu. Aku diajak berbelanja oleh-oleh aksesoris di Pasar Kebun Sayur. Berbagai macam kerajinan tangan khas Kalimantan Timur ada di sana dengan harga cukup terjangkau. Belum ke Balikpapan rasanya jika kamu tidak mencoba Kepiting Kenari yang sangat terkenal itu. Kubawa sebagai oleh-oleh untuk kawan-kawan di Jakarta.

Selepas itu, aku minta untuk ditinggal sendiri karena ingin menikmati sore di pesisir pantai. Hembusan angin dan nuansa damai terasa lengkap dengan sajian minuman es kelapa muda. Sungguh indah, Indonesiaku🙂

Menikmati sore di pinggir pantai

Menikmati sore di pinggir pantai

Memori tentang perjalanan kembali datang. Sangat bersyukur dengan apa yang sudah aku lalui dan antusias akan masa depan cerah. Kemanakah selanjutnya arah mata angin akan membawaku?

Kemanakah arahmatangin akan membawaku selanjutnya?

Kemanakah arahmatangin akan membawaku selanjutnya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s